RANGKAIAN SIMULASI DAN PRINSIP KERJA
Sistem Smart Fire Early Warning System bekerja berdasarkan pendeteksian kondisi lingkungan yang berpotensi menyebabkan kebakaran, yaitu kenaikan suhu, keberadaan api, dan keberadaan manusia. Tiga jenis sensor digunakan sebagai input utama. Sensor suhu LM35 berfungsi mendeteksi perubahan suhu dalam bentuk tegangan analog. Flame sensor mendeteksi keberadaan api melalui radiasi inframerah dan menghasilkan sinyal digital. Sensor PIR mendeteksi pergerakan manusia berdasarkan perubahan radiasi panas tubuh. Seluruh sinyal dari sensor tersebut dikirim ke mikrokontroler STM32F103C8T6 untuk diolah menjadi keputusan sistem.
Pada kondisi normal, suhu lingkungan berada di bawah batas ambang dan tidak terdeteksi adanya api. Sensor LM35 menghasilkan tegangan rendah, flame sensor tidak aktif (LOW), dan sensor PIR hanya memberikan informasi keberadaan manusia tanpa memicu alarm. Mikrokontroler mengolah kondisi ini sebagai keadaan aman. LED hijau menyala sebagai indikator aman, buzzer dalam keadaan mati, dan LCD menampilkan status “SYSTEM SAFE”.
Kondisi suhu tinggi terjadi ketika sensor LM35 mendeteksi kenaikan suhu melebihi nilai ambang yang telah ditentukan. Tegangan output sensor meningkat dan dibaca oleh ADC pada mikrokontroler. Sistem menginterpretasikan kondisi ini sebagai potensi awal kebakaran. LED merah mulai menyala sebagai peringatan, buzzer tetap tidak aktif, dan LCD menampilkan pesan “HIGH TEMP” untuk memberikan informasi kepada pengguna.
Kondisi kebakaran terdeteksi terjadi ketika flame sensor mendeteksi adanya api. Sensor menghasilkan sinyal digital aktif (HIGH) yang langsung diproses oleh mikrokontroler. Dalam kondisi ini, sistem masuk ke status bahaya. LED merah menyala, buzzer aktif menghasilkan suara alarm, dan LCD menampilkan “FIRE DETECTED” sebagai peringatan utama.
Sensor PIR bekerja sebagai pendukung informasi dengan mendeteksi keberadaan atau pergerakan manusia di area pemantauan. Ketika manusia terdeteksi, mikrokontroler menampilkan status “HUMAN DETECTED” pada LCD. Namun, sensor ini tidak mengaktifkan buzzer karena tidak berkaitan langsung dengan kondisi kebakaran. Informasi ini penting untuk mengetahui apakah terdapat penghuni saat kondisi darurat terjadi.
Secara keseluruhan, sistem bekerja secara otomatis dengan mengubah fenomena fisik berupa suhu, cahaya api, dan radiasi panas manusia menjadi sinyal listrik. Mikrokontroler STM32 mengolah sinyal tersebut menggunakan logika pemrograman untuk menentukan kondisi sistem. LED berfungsi sebagai indikator visual, buzzer sebagai peringatan suara, dan LCD sebagai media informasi. Sistem ini mampu memberikan peringatan dini secara cepat dan akurat sehingga dapat membantu mengurangi risiko kebakaran pada area permukiman padat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar